Selasa, 28 Mei 2013

PENTINGNYA GURU PROFESIONAL UNTUK SEKOLAH DASAR

oleh Trias Jati Probo Hutomo

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, institusi pendidikan formal mengemban tugas penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas di masa depan. Di lingkungan pendidikan persekolahan (education as schooling) ini, guru profesional memegang kunci utama bagi peningkatan mutu SDM masa depan itu. Guru merupakan tenaga profesional yang melakukan tugas pokok dan fungsi meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik sebagai aset manusia Indonesia masa depan.
Pemerintah tidak pernah berhenti berupaya meningkatkan profesionalisme guru dan kesejahteraan guru. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah strategis dalam kerangka peningkatan kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, serta perlindungan hukum dan perlindungan profesi bagi mereka. Langkah-langkah strategis ini perlu diambil, karena apresiasi tinggi suatu bangsa terhadap guru sebagai penyandang profesi yang bermartabat merupakan pencerminan sekaligus sebagai salah satu ukuran martabat suatu bangsa.
Guru profesional memiliki kemampuan mengorganisasikan lingkungan belajar yang produktif. Kata “profesi” secara terminologi diartikan suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya dengan titik tekan pada pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual. Kamampuan mental yang dimaksudkan di sini adalah ada persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis. Kompetensi guru sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial, dimana hal itu diharapkan dapat diperoleh secara penuh melalui pendidikan profesi.
Saat ini telah muncul komitmen kuat dari Pemerintah Indonesia, terutama Depdiknas, untuk merevitalisasi kinerja guru antara lain dengan memperketat persyaratan bagi siapa saja yang ingin meniti karir profesi di bidang keguruan. Dengan persyaratan minimum kualifikasi akademik sebagaimana diatur dalam UU No. 14 Tahun 2005, diharapkan guru benar-benar memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran. Dalam UU No. 14 tahun 2005, kata profesional diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Di dalam UU ini diamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kebijakan prioritas dalam rangka pemberdayaan guru saat ini adalah meningkatan kualifikasi, peningkatan kompetensi, sertifikasi guru, pengembangan karir, penghargaan dan perlindungan, perencanaan kebutuhan guru, tunjangan guru, dan  sebagainya.
B.     Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apakah yang disebut dengan guru dan profesionalisme ?
2.    Siapakah guru profesional itu ?
3.    Seberapa pentingkah guru profesional untuk pendidikan Sekolah Dasar?
C.    Tujuan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian guru dan profesionalisme.
2. Mengetahui apa itu guru profesional.
3. Mengetahui pentingnya guru profesional untuk pendidikan Sekolah Dasar.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Guru dan Profesionalisme
Dalam proses belajar mengajar guru adalah orang yang memberikan pelajaran. Dalam kamus bahasa Indonesia, guru diartikan “orang yang kerjanya mengajar”. Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan serta dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan.
Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Pada  sisi lain, Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal di sekolah maupun di luar sekolah.
Latar belakang pendidikan seorang guru dari guru lainnya terkadang tidak sama dengan pengalaman pendidikan yang pernah dimasuki selama jangka waktu tertentu. Perbedaan latar belakang pendidikan akan mempengaruhi kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan interaksi belajar mengajar. Tetapi, karena banyaknya guru   yang dibutuhkan di sekolah-sekolah maka latar belakang pendidikan seseorang seringkali tidak dipertimbangkan.
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketermpilan, kejujuran) tertentu. Sedangkan kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.
Setiap guru profesional menguasai pengetahuan yang mendalam dalam spesialisnya. Penguasaan pengetahuan ini merupakan syarat yang penting di  samping keterampilan/keterampilan lain. Guru profesional selain menguasi seluk-beluk pendidkan dan pengajaran serta ilmu-ilmu lainya, guru juga dibekali pendidikan khusus untuk menjadi guru dan memiliki keahlian khusus yang diperlukan sesuai dengan profesinya.
Pekerjaan guru adalah suatu profesi tersendiri, pekerjaan ini tidak dapat dikerjakan oleh sembarang orang tampa memiliki keahlian sebagai seorang guru. Banyak yang pandai berbicara tertentu, namun orang itu belum dapat disebut sebagai seorang guru. Pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat atau tidak memperoleh pekerjaan lainya.
Dari rumusan di atas “dipersiapkan untuk itu” mengandung arti luas. Bisa dipandang melalui proses pendidikan bisa pula diperoleh dari proses laitihan. Namun menurutnya, untuk pekerjaan yang bersifat profesional lebih-lebih untuk pekerkaan yang bersifat profesional penuh seperti profesi dokter, maka dipersiapkan untuk itu harus mengacu pada proses pendidikan, dan bukan sekedar latihan. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang dijalaninya maka akan semakin tinggi pula derajat profesi yang disandangya. Ini berarti tinggi rendahnya pengakuan profesionalisme sangat menggan tung pada tingkat keahlian dan pendidikan yang ditempuhnya.
Keahlian atau kemampuan profesional tidak mesti harus diperoleh daei jenjang pendidikan, tetapi bisa saja seseorang yang secara tekun mempelajari dan melatih diri dalam suatu bidang tertentu menjadi profesional. Hanya saja menurutnya, profesi yang disandang melalui jenjang pendidikan akan memperoleh pengakuan yang bersifat formal naupun informal, sedangkan yang diperoleh dari selain pendidikan formal pada umunya hanya akan mendapat pengakuan yang bersifat informal saja.
Profesi adalah riwayat pekerjaan, pekerjaan (tetap), pencaharian pekerjaan yang merupakan sumber penghidupan. Profesi adalah jabatan, beberapa tentang pengertian profesi yaitu:
1) Melayani masyarakat merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat (tidak berganti-ganti pekerjaan).
2) Memerlukan bidang dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khayalak ramai (tidak setiap orang dapat melakukannya).
3) Memerlukan perhatian khusus dengan waktu yang panjang.
Profesi adalah jabatan atau pekerjaan yang mempersyaratkan keahlian sebagai hal yang melatarbelakangi, memiliki etika organisasi profesi yang mewadahinya. Kedua, pengertian profesional adalah yang melakukan pekerjaan yang sudah dikuasai atau telah dibandingkan baik secara konsepsional secara teknik atau latihan.
Istilah profesionalisme berasal dari professional. Profession mengandung arti yang sama dengan kata accupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Profesionalisme berarti suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan.
Profesionalisme ialah faham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Orang yang profesional adalah orang yang memiliki profesi, sedangkan profesi itu harus mengandung keahlian artinya suatu program itu mesti dilandasi oleh suatu keahlian khusus untuk profesi.
Profesionalisme dalam pendidikan tidak lain ialah seperangkat fungsi dan tugas dalam lapangan pendidikan berdasarkan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu menekuni bidang profesinya selama hidupnya. Mereka itu adalah para guru yang profesional yang memiliki kompetensi keguruan berkat pendidikan atau latihan di lembaga pendidikan guru dalam jangka waktu tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa profesionalisme merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut didalam pengetahuan dan teknologi dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat.
Mengingat pentingnya profesionalisme dalam Hadits shahih Al-jamius shahih Bukhari Muslim mengatakan bahwa:
Artinya “Sesungguhnya Allah tidaklah menahan ilmu dari manusia, tetapi dia akan menahan ilmu dengan di tahannya (diambilnya) para ulama, sehingga jika sudah tidak ada lagi seorang alim ahli maka manusia selalu mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka. Maka bertanyalah orang-orang, lalu dijawablah dengan tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan”. (HR. Bukhari, Muslim).
Dari Hadits di atas dapat disimpulkan bahwasanya seorang pemimpin haruslah orang yang mempunyai keahlian oleh karena itu dianjurkan untuk menguasai ilmu pengetahuan agar rakyatnya atau umatnya tidak tertindas dan mampu membawa mereka ke jalan yang lebih baik demikan juga dengan umatnya untuk menuntut ilmu sebagai bekal ilmu pengetahuan dan penerus sebagai pemimpin yang profesional.
Dalam terjemah tafsir Al-Maraghi, kalimat:
اِعْمَلُوْا عَلَى مَكَانَتِكُمْ
Mengandung pengertian bahwa seseorang harus sesuai dengan kemampuan dan keahlian bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing, sehingga mereka mampu menangani pekerjaannya dan mampu mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya guna kemajuan hasil kerja. Dan mereka akan selalu mendapat petunjuk Allah SWT.

B.     Guru Profesional
Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danm keterampilan keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya.
Guru yang memahami fungsi dan tugasnya tidak hanya sebatas dinding sekolah saja, tetapi juga sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang juga memiliki beberapa tugas fungsi dan tugas guru profesional adalah :
1.      Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalaman-pengalaman.
2.      Membentuk kepribadian anak yang harmonis sesuai cita-cita dan dasar negara kita Pancasila.
3.      Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. 2 Tahun 1983.
4.      Sebagai prantara dalam belajar.
5.      Guru adalah sebagai pembimbing untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan. Pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut kehendak hatinya.
6.      Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.
7.      Sebagai penegak disiplin. Guru menjadi contoh dalam segala hal, tata tertib dapat berjalan apabila guru menjalaninya terlebih dahulu.
8.      Sebagai adminstrator dan manajer.
9.      Guru sebagai perencana kurikulum.
10.  Guru sebagai pemimpin.
11.  Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak.
Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing. Dalam hal ini pembimbing yang memiliki sarana dan serangkaian usaha dalam memajukan pendidikan. Seorang guru menjadi pendidik yang sekaligus sebagai seorang pembimbing. Contohnya guru sebagai pendidik dan pengajar sering kali akan melakukan pekerjaan bimbingan, seperti bimbingan belajar tentang keterampilan dan sebagainya dan untuk lebih jelasnya proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan membimbing sebagai yang taka dapat dipisahkan. Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan menuntun anak didik dalam perkembanganya dengan jelas dmemberikan langkah dan arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Sebagai pendidik guru harus berlaku membimbing dalam arti menuntun sesuai dengan kaidah yang baik dan mengarahkan perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, termasuk dalam hal ini yang terpenting ikut memecahkan persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak didik. Dengan demikian diharapkan menciptakan perkembangan yang lebih baik pada diri siswa, baik perkembangan fisik maupun mental.
Dari uraian di atas secara rinci peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Fasilitator
Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar mengajar.
2. Motivator
Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.
3. Informator
Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
4. Pembimbing
Peran guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah sebagai pembimbing.
5. Korektor
Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk.
6. Inspirator
Sebagai inspirator guru harus dapat membedakan ilham yang baik bagi kemajuan anak didik.
7. Organisator
Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan oleh guru dalam bidang ini memiliki kegiatan pengelolaan kegiataan akademik dan lain sebagainya.
8. Inisator
Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetur ide-ide kemajuan dan pendidikan dalam pengajaran.
9. Demonstrator
Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran anak didik pahami.
10. Pengelolaan kelas
Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik karena kelas adalah tempat terhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelaaran dari guru.
11. Mediator
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya baik media non material maupun material.
12. Supervisor
Guru hendaknya dapat membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
13. Evaluator
Guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur dengan memerikan penilaian yang menyentuh aspek intrinsik dan ekstrinsik.
Dalam pembelajaran di SD khususnya, diperlukan seorang guru yang mampu mengelola dan mentrasfer ilmunya dengan baik dan benar. Guru merupakan orang yang menjadi pedoman atau tuntunan bagi murid-muridnya. Keberhasilan proses pembelajaran sebagian besar juga ditentukan oleh seorang guru. Oleh karenanya keprofesionalan seorang guru disini sangat diperlukan.
Professional menunjuk pada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi, misalnya, “Dia seorang professional”. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaanya yang sesuai dengan profesinya. Dalam pengertian kedua ini, istilah professional dikontraskan dengan “nonprofessional” atau “amatiran”. Dalam kegiatan sehari-hari seorang professional melakukan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang telah dimilikinya, jadi tidak asal tahu saja.
Banyak ahli mendefinisikan tentang pengertian guru professional. Berikut ini dikemukakan beberapa pendapat tersebut.
Menurut Rice dan Bishoprick (Ibrahim Bafadal, 2009: 5) mendefinisikan guru professional sebagai guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya sehari-hari. Profesionalisme guru oleh kedua pasangan penulis tersebut dipandang sebagai satu proses yang bergerak dari ketidaktahuan (ignorance) menjadi tahu, dari ketidak matangan (immaturity) menjadi matang, dari diarahkan oleh orang lain (other-directedness) menjadi mengarahkan diri sendiri. Peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMBS) mempersyaratkan adanya guru-guru yang memiliki pengetahuan yang luas, kematangan, dan mampu menggerakkan dirinya sendiri dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Sedangkan Glickman (Ibrahim Bafadal, 2009: 5) menegaskan bahwa seseorang akan bekerja secara professional bilamana orang tersebut memilki kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Maksudnya adalah seseorang akan bekerja secara professional bilamana memilki kemampuan kerja yang tinggi dan kesungguhan hati untuk mengerjakan sebaik-baiknya. Sebaliknya, seseorang tidak akan bekerja secara profesional bilamana hanya memenuhi salah satu diantara dua persyaratan di atas.
Guru yang profesional juga harus memiliki beberapa kompetensi dasar, yaitu:
1.    Kompetensi profesional
Artinya memiliki pengetahuan yang luas serta dalam dari subjek matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang tepat serta mampu menggunakan berbagai metode dalam proses belajar mengajar.
2.    Kompetensi personal
Artinya memiliki sikap kepribadian yang mantap, sehingga mampu menjadi sumber identifikasi bagi subjek.
3.    Kompetensi sosial
Artinya menunjukkan kemampuan berkomunikasi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan teman sesama guru, dengan kepala sekolah bahkan dengan masyarakat luas.
4.    Kemampuan untuk memberi pelayanan yang sebaik-baiknya yang berarti mengutamakan nilai kemanusian daripada nilai benda material.
Selain harus memiliki kompetensi, seorang guru profesional perlu mengetahui dan dapat menerapkan beberapa prinsip dalam mengajar, yaitu sebagai berikut :
1.    Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.
2.    Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran.
3.    Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan dan usia peserta didik.
4.    Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.
5.    Guru harus dapat menjelaskan unit pelajaran tahap demi tahap sehingga peserta didik dapat memahaminya dengan benar.
6.    Guru wajib memperhatikan dan memikirkan hubungan antara mata pelajaran dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
7.    Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar peserta didik.
8.    Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial baik di dalam maupun diluar kelas.
9.    Guru harus mendalami perbedaan karakter antar peserta didik.
C.    Pentingnya Guru Profesional untuk pendidikan Sekolah Dasar
Pentingnya peningkatan kemampuan professional guru sekolah dasar dapat di tinjau dari beberapa sudut pandang. Pertama, di tinjau dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, telah berhasil dikembangkan berbagai metode dan media baru dalam pembelajaran. Begitu juga dengan pengembangan materi dalam rangka pencapaian target kurikulum. Semuanya harus di kuasai oleh guru dan kepala sekolah dasar. Sehingga mampu mengembangkan pembelajaran yang dapat membawa anak didik menjadi lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu peningkatan kemampuan professional guru sekolah dasar perlu dilakukan secara kontinu. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, di tinjau dari kepuasan dan moral kerja.
Peningkatan kemampuan professional guru merupakan hak setiap guru. Artinya setiap guru berhak mendapat pembinaan secara kontinu, baik dalam bentuk supervisi, study banding, tugas belajar, maupun dalam bentuk lain. Guru sekolah dasar swasta berhak mendapatkan pembinaan professional dari yayasan. Sedangkan guru sekolah dasar negeri berhak mendapat pembinaan professional dari departemen atau dinas yang berwenang.
Peningkatan kemampuan professional guru juga di anggap sebagai pemenuhan hak apabila di rancang dan dilakukan dengan baik merupakan satu upaya pembinaan kepuasan dan moral kerja. Karena guru sekolah dasar tidak hanya semakin mampu dan terampil dalam melaksanakan tugas profesionalnya tetapi juga semakin puas memiliki moral atau semangat kerja yang tinggi dan berdisiplin. Ketiga, ditinjau dari keselamatan kerja. Banyak aktivitas pembelajaran di sekolah dasar  yang beresiko tinggi apabila tidak dirancang dan dilakukan dengan hati-hati.
Aktivitas tersebut banyak ditemukan pada pembelajaran ilmu pengetahuan alam, khususnya pada pokok bahasan yang proses pembelajarannya menuntut keaktifan siswa atau guru menggunakan bahan kimia. Jika tidak dirancang dan dilakukan dengan professional tidak menutup kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti peledakan bahan kimia, tersentuh jaringan listrik, dan sebagainya. Dalam rangka mengurangi terjadinya berbagai kecelakaan atau menjamin keselamatan kerja. Pembinaan perlu dilakukan secara kontinu. Keempat, peningakatan professional guru sangat penting dalam rangka manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah di sekolah dasar. Ciri implementasi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah adalah kemandirian dari seluruh stakeholder sekolah dasar salah satunya dari guru. Kemandirian akan tumbuh bilamana ada peningkatan kemampuan professional kepada dirinya.
Peningkatan professional guru di sekolah dasar dapat dikelompokkan menjadi dua macam pembinaan. Pertama, pembinaan kemampuan pegawai sekolah dasar melalui supervisi pendidikan, program sertifikasi, dan tugas belajar. Kedua, pembinaan komitmen pegawai sekolah dasar melalui pembinaan kesejahteraannya.
Sementara ini, seringkali pembinaan pegawai sekolah dasar, khususnya kepala dan guru sekolah dasar, dilakukan melalui penataran. Mereka seringkali terpaksa harus meninggalkan sekolah untuk mengikuti penataran yang diadakan oleh kantor Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten. Padahal sebenarnya banyak sekali teknik yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan mereka. Beberapa teknik yang dimaksud diantaranya berupa bimbingan, latihan, kursus, pendidikan formal, promosi, rotasi jabatan, konferensi, rapat kerja, penataran, lokakarya, seminar, diskusi, dan studi kasus. Beberapa factor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih teknik pengembangan peningkatan kemampuan professional guru sekolah dasar, yaitu:
1.    Guru yang akan dikembangkan
2.    Kemampuan guru yang akan dikembangkan,
3.    Kondisi lembaga, seperti dana, fasilitas, dan orang yang bisa dilibatkan sebagai pelaksana.
a.    Peningkatan Kemampuan Professional Guru Sekolah Dasar Melalui Supervisi Pendidikan
     Secara sederhana, supervisi pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses pemberian layanan bantuan professional kepada guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas pengelolaan proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Ada tiga ciri supervisi pendidikan. Pertama, supervisi pendidikan merupakan sebuah proses. Kedua, supervisi merupakan aktivitas membantu guru meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, khususnya dalam mengelola proses belajar mengajar. Konsep ini sekaligus menunjukkan bahwa pemeran utama dalam meningkatkan kemampuan guru bukan kepala sekolahnya, bukan pula pengawas TK/ SD atau Pembina lainnya, melainkan guru sendiri, sedangkan kepala sekolahnya, pengawas TK/SD, dan Pembina lainnya berperan sebagai pembantu. Ketiga tujuan akhir pendidikan adalah guru semakin mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif dan efisien.
     Supervisi pendidikan memiliki beberapa fungsi. Menurut Sergiovanni (Ibrahim Bafadal, 2003: 46), ada tiga fungsi supervisi pendidikan di sekolah, yaitu pengembangan, fungsi motivasi, dan fungsi kontrol.
1. Dengan fungsi pengembangan berarti supervisi pendidikan, apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dapat meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran.
2. Dengan fungsi motivasi berarti supervisi pendidikan, apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dapat menumbuhkembangkan motivasi kerja guru.
3. Dengan fungsi kontrol berarti supervisi pendidikan, apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, memungkinkan supervisor (kepala sekolah dan pengawas TK/SD) melaksanakan kontrol terhadap pelaksanaan tugas guru.
b. Peningkatan Kemampuan Professional Guru Sekolah Dasar Melalui Program Sertifikasi
Program sertifikasi merupakan salah satu bentuk pembinaan profesionalisme guru yang melibatkan banyak pihak, seperti sekolah, guru, Kepala Kantor Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten/Kota, dan LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Program sertifikasi bertujuan untuk menyiapkan tenaga guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang  berkualitas. Hasil yang diharapkan melalui program sertifikasi adalah sebagai berikut.
·       Tersedianya tenaga guru terdidik/terlatih pada sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang memiliki kualifikasi guru kelas dan guru bidang studi.
·       Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan tenaga guru pada sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.
Pada akhir program sertifikasi, LPTK penyelenggara mengeluarkan ijazah. Ijazah sebagai alat bukti yang sah bahwa yang bersangkutan telah mengikuti program sertifikasi guru kelas (setara D2) yang diselenggarakan oleh LPTK yang  bersangkutan.
c.    Peningkatan Kemampuan Profesional Guru Sekolah Dasar Melalui Program Tugas Belajar
Pada masa sekarang ini sedang gencar-gencarnya pembinaan agar guru menjadi tenaga yang professional, pemerintah melalui undang- undangnya menetapkan undang-undang guru dan dosen dimana para pendidik disyaratkan telah lulus SI untuk TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan disyaratkan lulus S2 untuk tenaga pengajar di Universitas (UU No. 14 Tahun 2005 tentang undang-undang guru dan dosen). Implikasi dari keputusan tersebut maka guru sekolah dasar lulusan SPG atau PGA, dan Diploma II PGSD perlu ditugas belajarkan dalam bentuk program penyetaraan Strata 1 PGSD.
Semua yang dilakukannya untuk menyekolahkan guru sekolah dasar di atas, baik dalam bentuk program penyetaraan Strata 1 PGSD maupun menyekolahkannya ke LPTK dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Oleh karena itu, tugas belajar dapat ditempuh dalam rangka pembinaan profesionalisme pegawai di sekolah dasar. Ada tiga tujuan yang dapat dicapai dengan pemberian tugas belajar kepada guru di sekolah dasar.
a.     Meningkatkan kualifikasi formal guru sehingga sesuai dengan peraturan kepegawaian yang diberlakukan secara nasional maupun yayasan yang menaunginya.
b.      Meningkatkan kemampuan profesional para guru sekolah dasar dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar.
c.       Menumbuhkembangkan motivasi para pegawai sekolah dasar dalam rangka meningkaitkan kinerjanya.
d.   Peningkatan Kemampuan Profesional Guru Sekolah Dasar melalui Gugus Sekolah Dasar
Pembinaan profesionalisme guru sekolah dasar dapat juga diupayakan melalui sistem yang disebut dengan sistem pembinaan profesional guru (SPP-Guru). Sistem pembinaan profesional (SPP) adalah suatu sistem pembinaan yang diberikan kepada guru dengan menekankan bantuan pelayanan profesi berdasarkan kebutuhan guru di lapangan melalui berbagai wadah profesional dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Sistem pembinaan profesional, pada dasarnya, menerapkan prinsip pembinaan antara teman sejawat dalam peningkatan kemampuan profesional guru yang dilakukan secara terus-menerus yang dilandasi oleh tujuan dan semangat untuk maju bersama. Sistem pembinaan profesional di sekolah dasar bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional para guru sekolah dasar dalam rangka meningkatkan mutu proses dan hasil belajar siswa dengan mendayagunakan segala sumber daya dan potensi yang dimiliki sekolah, tenaga kependidikan, dan masyarakat sekitarnya.
Pelaksanaannya telah diatur di dalam berbagai peraturan, misalnya, Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 079/C/K/I/93 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru melalui Pembentukan Gugus Sekolah di Sekolah Dasar. Berdasarkan surat keputusan tersebut sistem pembinaan profesional di seklolah dasar dilaksanakan melalui sistem gugus sekolah dasar.









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Pada  sisi lain, Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal di sekolah maupun di luar sekolah. Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketermpilan, kejujuran) tertentu. Sedangkan kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain. Guru yang profesional juga harus memiliki beberapa kompetensi dasar, yaitu:
1.    Kompetensi profesional
2.    Kompetensi personal
3.    Kompetensi sosial
4.    Kemampuan untuk memberi pelayanan yang sebaik-baiknya yang berarti   mengutamakan nilai kemanusian daripada nilai benda material.
Dewasa ini, profesionalitas seorang guru Sekolah Dasar sangat dibutuhkan guna menciptakan Sekolah Dasar yang unggul. Karena jika tidak, maka sekolah akan tertinggal dan tenggelam oleh jaman yang dituntut untuk terus mengikuti perkembangan globalisasi.
B.     Saran





DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim Bafadal. 2009. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar